Saturday, September 29, 2012


MANAJEMEN  ASUHAN  KEBIDANAN  KOMUNITAS  PADA  KELUARGA  TN  ” S ” DI DUSUN BALANGE,DESA
ULUBALANG, KEC.SALOMEKKO, KAB.BONE
 TANGGAL 27 FEBRUARI 2012

I.    PENGUMPULAN DATA
A.     BIODATA KK
Nama                                  :  TN ”S”
Umur                                   :  36 Tahun
Suku / bangsa                      :  Bugis / Indonesia
Agama                                 :  Islam
Pendidikan terakhir              :  SD
Pekerjaan pokok                 :  Petani
Penghasilan perbulan            :  ±Rp 200.000/bulan
Perkawinan ke                     :  1 (pertama)
Lamanya menikah                :  8 Tahun
Alamat                                 :  Dusun Balange, Desa Ulubalang








B.     SUSUNAN ANGGOTA KELUARGA

No.
NAMA
L/P
UMUR
Hub.dgn KK
PEKERJAAN
PENDIDIKAN
KET.
1

2.


3.


4.

Tn “S”

Ny “D”

An “N”

An “M”
L

P


P


L

36  thn

36  thn


3  thn


2  thn

Suami

Istri


anak 1


anak 2
Petani

IRT


-


-


SD

SMP


-


-





C.     GENOGRAM  à gambarkan 3 generasi
 





                                                                                                                                  
                                               

                                                                                                                                   
                                          



Ket      :
 

                        : perempuan
 

                        : laki-laki

                        : serumah


D. POLA KEGIATAN SEHARI-HARI
1.         Kebiasaan tidur
-      Tidur siang    : tidak teratur tergantung pada kemauan anggota keluarga
-      Tidur malam : kebiasaan tidur malam mulai pukul 22.00 wita
2.Kebiasaan makan
a.       Pola nutrisi keluarga
Nasi, lauk, sayur dan buah
b.      Frekuensi makan
Kebiasaan makan anggota keluarga 3 x sehari
c.       Makanan pantang     :tidak ada
3.Personal hygiene dalam keluarga
a.       Kebersihan rambut
- Mencuci rambut /minggu :3x
- Bahan pencuci rambut yaitu sampoo.
b.      Kebiasaan mulut dan gigi
Kebiasaan menggosok gigi anggota keluarga 2 kali perhari dengan menggunakan pasta gigi .
c.       Kebiasaan mandi perhari
Kebiasaan mandi anggota keluarga tidak teratur,tergantung pada kemauan anggota keluarga masing-masing.

d.      Kebiasaan mencuci tangan sebelum makan
Mencuci tangan merupakan kebiasaan yang selalu dilakukan oleh anggota keluarga.
e.       Kebiasaan memotong kuku
Kebisaan memotong kuku anggota keluarga tidak teratur.
1.      Penggunaan waktu senggang
-  waktu senggang keluarga biasanya digunakan atau dimanfaatkan untuk menonton TV bersama.
2.      Situasi social budaya dan ekonomi
a.       Peranan anggota keluarga dan hubungannya dengan masyarakat
Ÿ         Ayah sebagai pencari nafkah
Ÿ         Ibu mengatur urusan rumah tangga
Ÿ         Hubungan keluarga dengan masyarakat sekitar cukup baik.
Ÿ         Kegiatan masyarakat yang dilakukan adalah kerja bakti.
b.   Suku/agama
Ÿ         Bapak dan ibu serta anggota keluarga lainnya adalah suku bugis.
Ÿ         Keluarga beragama islam dan mereka cukup taat melaksanakan ajaran agama.
c.       Penghasilan
Ÿ         Pekerjaan bapak adalah petani
Ÿ         Penghasilan kuarng dari Rp 200,000/ bulan
E.     SITUASI LINGKUNGAN
1.      Keadaan rumah :
Ÿ         Luas rumah : 6 x 8 m
Ÿ         Keadaan rumah
Keluarga menempati rumahnya permanen dalam bentuk rumah panggung dengan perabot rumah cukup teratur.
Ÿ         Ventilasi udara
Ventilasi rumah cukup baik sehingga pertukaran udara dan sinar matahari juga baik .
Ÿ         Klasifikasi rumah
Kebersihan rumah cukup baik.
Ÿ         Pekarangan rumah
Pekarangan rumah cukup kotot karena didepan rumah banyak rumput.




2.       Denah rumah : gambarkan sesuai kondisi rumah
  Ket : Bentuk rumah semi permanen
 

   F                                         E

 

                                                                                                          C                         
                                                D                                                
                                                                                              
                                                                                           C

 

                                                                                        B
                                                                                C


                                                                                                       A




                                                    Jalan

Ket :
A = Teras Rumah
B = Ruang Tamu
C = Kamar Tidur
D = Ruang Keluarga
E = Dapur
F = WC

3.      Sumber air minum
Keluarga memperoleh air minum dari sumur gali yang cukup bersih,sumur tersebut di gunakan untuk air minum,memasak,mandi dan mencuci.
4.      Jenis jamban
Jenis jamban keluarga berupa WC yang berbentuk leher angsa yang Nampak kurang bersih.
5.      Jenis SPAL
Jenis SPAL ( saluran pembuagan air limbah ) yang di gunakan dalam keluarga adalah terbuka.
6.      Pembuangan sampah
Tempat pembuangan sampa pada keluarga yaitu di kumpulkan lalu di bakar.
7.      Kepemilikan ternak
Ibu dan keluarga memiliki ternak peliharaan,sehingga banyak kotoran ayam disekitar teras dan pekarangan ibu.
8.      Pemanfaatan fasilitas kesehatan
Ibu dan keluarga rajin memeriksakan kesehatan di PKM.



F. KEADAAN KESEHATAN KELUARGA
v     PMS
PMS adalah penyakit dapat di tularkan dari seorang kepada orang lain melalui hubungan seksul.
v     SADARI
SADARI atau pemeriksaan payudara sendiri adalah metode pemeriksaan pada bagian payudara untuk mendeteksi adanya benjolan pada payudara
v     PAP SMEAR
PAP SMEAR adalah pemeriksaan yang di lakukan untuk mendeteksi secara dini terjadinya penyakit pada alat kelamin.
2.      ANALISA DATA
1.      Data Subjektif
Ibu mengatakan SPALnya terbuka.
Data Objektif
Nampak air limbah yang tergenang di belakang rumah.
Analisa Data
Keluarga tidak mempunyai SPAL yang sesuai standar.
2.      Data Subjektif
a.       Ibu mengatakan menggunakan metode KB alamiah.
b.      Ibu takut ber Kb
Data Objektif
Ibu belum mempunyai pengetahuan tentang KB.
Analisa Data
Ibu bukan akseptor KB.
3.      Data Subjektif
Keluarga mengatakan  tidak mengetahui tentang PMS,SADARI,PAP SMEAR.

Data Objektif
Keluarga merasa bingung.
Analisa Data
Keluarga sama sekali tidak mengetahui tentang PMS,SADARI,PAP SMEAR.
III. PERUMUSAN DIAGNOSA/MASALAH
Dari data yang telah dikumpulkan dan hasil analisa maka dapat dirumuskan masalah-masalah keluarga Tn “S”  :
A.SPAL keluarga tidak mempunyai

No.
KRITERIA
PERHITUNGAN
NILAI
PEMBENARAN
1.
Sifat ,masalah
     2/3 x1
    2/3
Kurang pengetahuan keluarga tentang kesehatan lingkungan.
2.
Kemungkinan masalah dapat diubah
     1/2 x1
      1
Keluarga dapat membuat SPAL yang tertutup
3.
Potensi pencegahan
      2/3 x1
       2/3
Adanya keinginan keluarga untuk memperbaharui kesehatan.
4.
Penonjolan masalah
       0/2 x1
      0
Masalah tidak di rasakan

      Total

2 1/3




B.KELUARGA BERENCANA

No.
        KRITERIA
PERHITUNGAN
  NILAI
       PEMBENARAN
1.
Sifat masalah
       2/3 x1
   2/3
Ancaman kesehatan
2.
Kemungkinan masalah dapat diubah
       1/3x1
   1
Tidak adnya keinginan ibu untuk mengikuti program KB, karena anak adalah titipan allah swt yang harus disyukuri.
3.
Potensi pencegahan
       1/3 x 1
   1/3
Keluarga tidak yakin bahwa program KB akan dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga ( falsafah banyak anak banyak reski ).
4.
Penonjolan masalah
      0/2 x1
    0
Keluarga tidak menyadari banyak anak banyak masalah.

       Total

      2


IV.  INTERVENSI
Tanggal 27 februari 2012, jam 15.20 wita
1.      Masalah kesehatan lingkungan
DS : ibu mengatakan SPALnya terbuka
DO: nampak SPAL di belakang rumah berceceran kemana-mana.
Tujuan :
Ø      Keluarga mengerti tentang kesehatan lungkungan
Ø      Keluarga dapat memiliki SPAL yang memenuhi kriteria.
Kriteria :
Ø      Keluarga dapat menjelaskan  tentang kesehatan lingkunga
Ø      Keluarga mengetahui hal yang akan timbul jika lingkungan kotor.
Rencana Tindakan
1.      Berikan penyuluhan tentang pentingnya kesling
Rasional : keluarga mengetahui pentingnya kesehatan lingkungan.
2.      Berikan dan ajarkan kepada keluarga tentang SPAL yang memenuhi kriteria.Rasional : memiliki SPAL yang memenuhi kriteria akan memutuskan mata rantai dari vektor penyakit.
3.      Berikan penjelasan tentang penyakit yang dapat timbul jika SPAL yang tidak memenuhi kriteria.
Rasional ; mengetahui hal-hal yang dapat timbul jika SPAL tidak memenuhi kriteria.
2.      Masalah keluarga Berencana
DS : ibu mengatakan ibu tidak ber KB
DO: ----

Tujuan :
Ø      Keluarga dapat mengerti pentingnya dan manfaat KB
Ø      Keluarga dapat mengatur dan jumlah anak dengan KB
Ø      Ibu mengetahui keuntungan dan kerugian tentang KB
       Kriteria :
Ø      Ibu ingin menjadi akseptor KB
Ø      Ibu mengetahui jenis-jenis KB
Ø      Ibu mengetahui keuntungan dan kerugian tentang KB.
Rencana Tindakan
1.      Berikan penjelasan tentang macam-macam KB dan efek sampingnya
Rasional : ibu dapat mengetahui dan mengerti macam-macam KB dan efek sampingnya sehingga dapat menentukan pilihannya.
2.      Berikan ibu motivasi untuk menjadi akseptor KB
Rasional : ibu dapat mengatur jarak kehamilannya.
V.     IMPLEMENTASI
Tanggal 27 februari 2012, jam 15.40 wita
1.      Masalah Lingkungan
a.       Memberikan penyuluhan tentang pentingnya kesling.
Keluarga mengetahui pentingnya kesehatan lingkungan
b.      Memberikan dan mengajarkan kepada keluarga tentang SPAL yang memenuhi target.
Memiliki SPAL yang kreteria akan memutuskan mata rantai dari vektor penyakit.
c.       Memberikan penjelasan tentang penyakit yang timbul jika SPAL yang tidak memenuhi kriteria.
2.      Masalah Keluarga Berencana
a.       Memberikan penjelasan tentang macam-macam KB
J     Senggama terputus
J     Kondom
J     Pil
J     Suntikan
J     Tubektomi
J     Vasektomi
b.      Memberikan ibu motivasi untuk menjadi akseptor KB
Ibu dapat mengatur jarak kehamilannya.
VI.   EVALUASI
Tanggal 27 februari 2012, jam 16.20 wita
1.      Masalah kesehatan lingkungan
a.       Setelah penyuluhan keluarga dapat mengetahui tentang kesling.
b.      Keluarga dapat mengerti dan memahami tentang SPAL yang sehat dan penyakit yang dapat di timbulkan oleh SPAL yang kotor.
2.      Masalah keluarga berencana
a.       Setelah penyuluhan ibu mengetahui tentang macam-macam KB
b.      Ibu bersedia menjadi akseptor KB
                                        SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik                        :
Ø      kesling ( saluran pembuangan air limbah )
Waktu / Tempat        : 
Ø      Tanggal 27 februari 2012/ Rumah Keluarga Binaan
Sasaran                     :
Ø      keluarga binaan
Tujuan Umum            :
Ø      setelah mendengar penyuluhan di harapkan keluarga mampu memahami pentingnya menciptakan lingkungan yang memenuhi syarat kesehatan.
Tujuan Khusus           : 
Ø      setelah mendengarkan penyuluhan keluarga di harapkan untuk menyebutkan pengertian kesehatan lingkungan ,menjelaskan ruang lingkup kesehatan ,menjelaskan pengaruh kesehatan lingkungan rumah terhadap kesehatan lingkungan ,serta menciptakan lingkungan rumah yang memnuhi syarat kesehatan kesehatan.
Materi                       :
Ø      pengertian kesehatan lingkungan
Ø      syarat-syarat lingkungan rumah yang sehat
Ø      pengaruh kesehatan lingkungan rumah terhadap kesehatan
Ø      ruang lingkup kesehatan lingkungan
Metode                     :    
Ø      Ceramah.
Ø      Tanya jawab

Media                       :  --------
SALURAN PEMBUANGAN AIR LIMBAH


1.   Pengertian kesehatan lingkungan
Kesehatan lingkungan adalah suatu keseimbangan yang harus ada antara manusia dan lingkungan agar dapat terjamin kesehatan manusia khususnya penghuni rumah.
2.   Syarat-syarat lingkungan rumah yang sehat
v     Harus mempunyai pekarangan /halaman yang cukup
v     Harus mempunyai ventilasi yang cukup yang memungkinkan sirkulasi udara menjadi lancar
v     Harus cukup mendapat penerangan,baik siang maupun malam hari.
v     Mempunyai WC dan kamar mandi
v     Adanya sumber air yang sehat
v     Harus ada tempat pembuangan kotoran ,sampah,dan air limbah yang baik.
v     Harus dapat mencegah perkembangan vektor penyakit misalnya nyamuk,tikus,dsb.
3.   Pengaruh kesehatan lingkungan
Keluarga yang sehat biasanya berasal dari lingkungan yang sehat pula,apabila kesehatan lingkungan rumah terjamin maka di harapkan kesehatan keluarga dapat meningkatkan rumah yang bersih dapat juga memberikan kenyamanan bagi penghuninya.
Rumah yang ventilasinya cukup udara keluar  masuk dapat menghindarkan keluarga dari resiko terjadinya penyakit saluran pernafasan.
4.   Ruang lingkup kesling
v  Penyediaan air bersih
v  Penyediaan tempat pencemaran air bersih dan pengeluaran limbah
v  Pengelolahan sampah
v  Pemberantasan vektor
v  Pencegahan dan pengawasan pencemaran tanah
v  Sanitasi makanan
v  Pengendalian pencemaran udara
v  Pengendalian kebisingan perumahan dan pemukiman
v  Tindakan pencegahan yang di perlukan untuk perlindungan lingkungan
v  Tindakan pencegahan yang di prlukan untuk perlindungan lingkungan
5.   Syarat-syarat sumber air minum
v  Tidak berwarna ( jernih )
v  Tidak berbau
v  Tidak berbusa
v  Jarak dari WC minimal 10 meter.

                                

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik                        :  Keluarga Berencana.
Waktu / Tempat        :  Tanggal 27 februari 2012 / Keluarga Binaan
Sasaran                     :  Pasangan Usia Subur ( PUS )
Tujuan Umum            :  Agar ibu mengerti dan mengetahui jenis – jenis keluarga berencana (alat kontrasesi).
Tujuan Khusus           :  Agar ibu mau menjadi akseptor KB.
Metode                     :  Ceramah.
Media                       :  -









KELUARGA BERENCANA
Keluarga Berencana adalah suatu metode yang digunakan untuk mencegah terjadinya kehamilan untuk mencapai keluarga yang sejahtera.
Jenis – jenis KB :
  1. Metode Amenorea Laktasi ( MAL )
Metode Amenorea Laktasi ( MAL ) adalah jenis kontrasepsi yang mengandalkan pemberian ASI secara eksklusif saja selama 6 bulan tanpa memberikan tambahan makanan atau minuman lainnya.
MAL dipakai sebagai kontrasepsi, bila :
Ø      Menyusui secara penuh bila pemberian 8 kali sehari.
Ø      Belum haid.
Ø      Umur bayi kurang dari 6 bulan.
  1. Metode Keluarga Berencana Alamiah
Ø      Pantang Berkala atau Sistem Kalender
Senggama dihindari pada masa subur yaitu sekitar 14 hari sebelum dan sesudah haid.
Ø      Metode Suhu Basal
Pantang senggama mulai dari awal siklus haid sampai sore hari ketiga berturut-turut setelah suhu berada di atas garis pelindung
Ø      Senggama Terputus (Coitus Interuptus)
Metode keluarga berencana dimana pria mengeluarkan alat kelaminnya (penis) dari vagina sebelum pia mencaai ejakulasi.
  1. Metode Barier
Ø      Kondom
Kondom merupakan selubung / sarung karet yang dapat terbuat dari berbagai bahan diantaranya lateks (karet), plastik (vinil), atau bahan alami (produksi hewani) yang dipasang pada penis saat berhubungan seksual.
Kondom menghalangi pertemuan sperma dan sel telur dgn mengemas sperma diujung selubung karet yg dipasang pd penis shgga sperma tdk tercurah dalam saluran reproduksi perempuan.
Ø      Diafragma
Diafragma adalah kap berbentuk bulat cembung, terbuat dari lateks (karet) yang diinsersikan ke dalam vagina selama berhubungan seksual dan menutup serviks. Diafragma bekerja dengan cara menahan sperma agar tidak mendapatkan akses mencapai saluran alat reproduksi bagian atas (uterus dan tuba fallopi).
Ø      Spermisida
Spermisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk menonaktifkan atau membunuh sperma. Spermisida bekerja dengan menyebabkan sel membran sperma terpecah, memperlambat pergerakan sperma dan menurunkan kemampuan pembuahan sel telur.
  1. Kontrasepsi Kombinasi (Hormon Estrogen dan Progesteron)
Ø      Pil kombinasi
Ada 2 jenis pil kombinasi :
-         Monfasik, pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dalam dosis yang sama, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.
-         Bifasik, tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dengan 2 dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.
Pil kombinasi bekerja dengan cara menekan ovulasi, mencegah implantasi, mengakibatkan lendir serviks mengental sehingga sulit dilalui oleh sperma, pergerakan tuba terganggu sehingga transportasi telur dengan sendirinya akan terganggu pula.
Ø      Suntikan kombinasi
Jenis suntikan kombinasi adalah 25 mg Depo Medroksiprogesteron Asetat dan 5 mg Estradiol Sipionat secara IM sebulan sekali.
Suntikan kombinasi bekerja dengan cara menekan ovulasi, membuat lendir serviks menjadi kental sehingga penetrasi sperma terganggu, perubahan pada endometium sehingga implantasi terganggu, menghambat transportasi gamet oleh tuba.

  1. Kontrasepsi Progestin
Ø      Suntiksn progestin
Ada 2 jenis suntikan progestin, yaitu :
-         Depo Medroksiprogesteron Asetat (Depo Provera), mengandung 100 mg DMPA yang diberikan setiap 3 bulan dengan IM.
-         Depo Nerotisteron Enantat (Depo Noristerat) yang mengandung 200 mg Noretindron Enantat diberikan setiap 2 bulan secara IM.
Suntikan progestin bekerja dengan cara mencegah ovulasi, mengentalkan lendir serviks sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma, menjadikan selaput lendir rahim tipis dan atrofi, menghambat transportasi gamet oleh tuba.
  1. AKDR ( IUD )
AKDR adalah alat kontrasepsi dalam rahim. Jenis AKDR yaitu AKDR CuT-380A. AKDR bekerja dengan cara menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba fallopi, mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri, memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus.
AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun AKDR membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi.
  1. Kontrasepsi Mantap
Ø      Tubektomi
Tubektomi adalah prosedur bedah sukarela untuk menghentikan fertilisasi (kesuburan) seorang perempuan. Jenis tubektomi yaitu, minilaparatomi dan laparaskopi. Cara kerja tubektomi yaitu dengan cara mengoklusi tuba fallopi (mengikat dan memotong atau memasang cincin) sehingga spera tidak dapat bertemu dengan ovum.
Ø      Vasektomi
Vasektomi adalah prosedur klinik untuk menghentikan kapasitas reproduksi pria dengan melakukan insisi pada vas deferens sehingga alur transportasi sperma tehambat.
Vasektomi merupakan upaya untuk menghentikan vertilitas dimana fungsi reproduksi merupakan ancaman atau gangguan terhadap kesehatan pria dan pasangannya serta melemahkan ketahanan dan kualitas keluarga.
Ø      Rekanalisasi Tuba Fallopi
Operasi rekanalisasi dengan teknik bedah mikro sudah dapat dikembangkan. Teknik ini tidak saja menyambung kembali tuba fallopi dengan baik, tetapi juga menjamin kembalinya fungsi tuba. Hal ini disebabkan oleh teknik bedah mikro yang secara akurat menyambung kembali tuba dengan trauma yang minimal, mengurangi perlengketan pascaoperasi, mempertahankan fisiologi tuba, serta menjamin fibriae tuba tetap bebas sehingga fungsi penangkapan ovum masih tetap baik.

MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS PADA KELUARGA  TN.”S” DIDUSUN BALANGE
 DESA ULUBALANG KEC. SALOMEKKO
TANGGAL 27 FEBRUARI 2012







OLEH:

NAMA            :   NURMU’AFIAH
NIM                :   BT 09 121
KELAS          :   III C

AKADEMI KEBIDANAN BATARI TOJA WATAMPONE 2011/2012

Friday, September 28, 2012

MAKALAH SOSIOLOGI


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah berkenan memberi petunjuk dan kekuatan kepada penulis sehingga makalah, “MODERNISASI DAN GLOBALISASI ” ini dapat diselesaikan.

Makalah ini disusun dan dibuat berdasarkan materi – materi yang ada. Materi – materi bertujuan agar dapat menambah pengetahuan dan wawasan siswa dalam belajar teknologi informasi dan komunikasi. Serta siswa juga dapat memahami nilai – nilai dasar yang direfleksikan dalam berpikir dan bertindak.

Mudah-mudahan dengan mempelajari makalah ini, para siswa akan mampu menghadapi masalah-masalah atau kesulitan-kesulitan yang timbul dalam belajar Teknologi Infomasi dan Komunikasi. Dan dengan harapan semoga siswa mampu berinovasi dan berkreasi dengan potensi yang dimiliki,


                                                                                                 KAJUARA, 24 SEPTEMBER 2012


                                                                                                            NASRUDDIN’K










DAFTAR ISI
SAMPUL
KATA PENGANTAR 
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG

B.      RUMUSAN MASALAH

C.      TUJUAN
BAB II PEMBAHASAN
A.      PENGERTIAN MODERNISASI

B.      CIRI-CIRI MASYARAKAT MODEREN

C.      SYARAT-SYARAT MODERNISAS

D.      SIKAP MENTAL MANUSIA MODEREN

E.      GEJALA-GEJALA MODERNISASI

BAB III PENUTUP
A.      KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA







BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang Masalah

          Kemajuan ilmu pengetahuan selalu diikuti dengan kemajuan teknologi. Hal ini terbukti dengan banyaknya penemuan dalam bidang teknologi guna memenuhi kebutuhan hidup manusia dalam melakukan berbagai aktivitas sehari-hari.
         Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di
Indonesia melibatkan Negara-negara lain. Dalam banyak proyek pengembangan ilmu pengetahuan seperti penelitian-penelitian, beasiswa, dan institusi pendidikan, Negara-negara lain banyak terlibat baik dari segi pembiayaan maupun segi pengadaan fasilitas.
         Modernisasi berarti proses menuju masa kini atau proses menuju masyarakat yang modern. Modernisasi dapat pula berarti perubahan dari masyarakat tradisional menuju masyarakat yang modern. Jadi, modernisasi merupakan suatu proses perubahan di mana masyarakat yang sedang memperbaharui dirinya berusaha mendapatkan ciri-ciri atau karakteristik yang dimiliki masyarakat modern.

B.     Rumusan masalah

Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah:
1. apa pengertian modernisasi
2. Apa ciri-ciri masyarakat moderen
3. Apa syarat-syarat modernisasi
4. Bagaimana sikap mental manusia moderen
5. Apa gejala-gejala modernisasi

C.      Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari Penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui:
1. Mengetahui pengertian modernisasi
2. Mengetahui ciri-ciri masyarakat moderen
3. Mengetahui syarat-syarat modernisasi
4. Mengetahui sikap mental manusia moderen
5. Mengetahui gejala-gejala modernisasi


BAB II
PEMBAHASAN

A.     PENGERTIAN MODERNISASI

          Kata modernisasi dengan kata dasar modern berasal dari bahasa Latin modernus yang dibentuk dari kata modo dan ernus. Modo berarti cara dan ernus menunjuk pada adanya periode waktu masa kini.Modernisasi dalam arti harfiah yaitu proses menjadi masyarakat moderen. Modernisasi berarti proses menuju masa kini atau proses menuju masyarakat yang modern. Modernisasi dapat pula berarti perubahan dari masyarakat tradisional menuju masyarakat yang modern. Jadi, modernisasi merupakan suatu proses perubahan di mana masyarakat yang sedang memperbaharui dirinya berusaha mendapatkan ciri-ciri atau karakteristik yang dimiliki masyarakat modern. Ahli lainnya, Wright berpendapat bahwa biasanya modernisasi harus dibayar dengan harga yang mahal. Harga sosialnya, menurut Weiner adalah timbulnya ketegangan (tension), sakit mental, kekerasan, perceraian, kenakalan remaja, konflik rasial, agama dan kelas, dan juga menurut Wright akan timbul kriminalitas, penyalahgunaan obat, serangan jantung. Serta dapat pula ditambahkan tentu saja adalah stress dan AIDS, dua penyakit yang banyak muncul dalam masyarakat industri modern, tetapi begitu sulit untuk menemukan obatnya. . Teori Harrod – Domar : Modal dan Investasi
1. Roy Harrod dan Evsey Domar adalah ahli ekonomi yang berbicara tentang teori ekonomi pembangunan yang menekankan pada penyediaan modal dan investasi. Mereka berkesimpulan bahwa pembangunan akan berhasil dan terlaksana dengan baik jika pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh tingginya modal dan investasi.
2. Teori Max Weber : Etika Protestan
Max Weber adalah seorang sosiolog jerman yang dianggap bapak sosiolog modern. Teori Max Weber menekankan tentang nilai-nilai budaya yang menjelaskan tentang peran agama dalam pembentukan kapitalisme. Peran agama yang dikemukakan disini mempunyai peran yang menentukan dalam mempengaruhi tingkah laku individu. Kalau nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat dapat diarahkan kepada sikap yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi, maka proses pembangunan dalam masyarakat dapat terlaksana.
3. Teori David McCleland : Dorongan Berprestasi atau n-Ach
David McCleland adalah seorang ahli psikologi sosial. Teori ini menekankan pada aspek-aspek psikologi individu. Bagi McCleland, dengan mendorongnya proses pembangunan berarti membentuk manusia wiraswasta dengan n-Ach yang tinggi. Kalau manusia wiraswasta ini dapat dibentuk dalam jumlah yang banyak, maka proses pembangunan dalam masyarakat tersebut dapat terlaksana dengan baik.
4. Teori W.W. Rostow : Lima Tahap Pembangunan
W.W. Rostow adalah seorang ahli ekonomi, perhatiannya bukan hanya pada masalah ekonomi dalam arti sempit tetapi juga meluas pada masalah sosiologi dalam proses pembangunan, meskipun titik berat analisisnya masih tetap pada masalah ekonomi. Bagi Rostow sendiri pembangunan merupakan proses yang bergerak dalam sebuah garis lurus, yakni dari masyarakat yang terbelakang ke masyarakat yang maju.


B.     CIRI-CIRI MANUSIA MODEREN

         Modernisasi dapat terwujud apabila masyarakatnya memiliki individu yang         mempunyai sikap modern, menurut Alex Inkeles, terdapat 9 ciri manusia modern. Ciri-ciri itu sebagai berikut:
1)  Memiliki sikap hidup yang menerima hal-hal yang baru dan terbuka untuk           perubahan.
 2) Memiliki keberanian untuk menyatakan pendapat atau opini mengenai         lingkungannya sendiri atau kejadian yang terjadi jauh di luar lingkungannya serta dapat bersikap demokratis.
3) Menghargai waktu dan lebih banyak berorientasi ke masa depan daripada masa lalu.
4) Memiliki perencanaan dan pengorganisasian.
5) Percaya diri.
6) Perhitungan.
7) Menghargai harkat hidup manusia lain.
 8) Percaya pada ilmu pengetahuan dan teknologi.
 9) Menunjung tinggi suatu sikap di mana imbalan yang diterima seseorang haruslah sesuai dengan prestasinya dalam masyarakat.


C.      SYARAT-SYARAT MODERNISASI


       Selain dorongan modernisasi, terdapat pula syarat-syarat modernisasi. Menurut Sarjono Soekanto, syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut :
1) Cara berpikir ilmiah (scientific thinking) yang sudah melembaga dan tertanam kuat dalam kalangan pemerintah maupun masyarakat luas.
2) Sistem administrasi Negara yang baik dan benar-benar mewujudkan birokrasi.
3) Sistem pengumpulan data yang baik, teratur, dan terpusat pada suatu lembaga atau badan tertentu seperti BPS (Badan Pusat Statistik).
4) Penciptaan iklim yang menyenangkan (favourable) terhadap modernisasi terutama media
massa.
5) Tingkat organisasi yang tinggi, terutama disiplin diri.
6) Sentralisasi wewenang dalam perencanaan social (social planning) yang tidak mementingkan kepentingan pribadi atau golongan.

D.     SIKAP MENTAL MANUSIA MODEREN

        Selain syarat-syarat di atas, agar modernisasi berjalan lancar perlu dukungan kebudayaan masyarakat. Kebudayaan suatu masyarakat dapat menjadi pendorong sekaligus penghambat proses modernisasi.. karena itu, sikap mental dan nilai budaya suatu masyarakat sangat menentukan diterima atau ditolaknya suatu perubahan atau modernisasi. Sikap mental yang dapat menjadi pendorong proses modernisasi antara lain adalah rajin, tepat waktu, dan berani mengambil resiko. Modernisasi ini berusaha membebaskan kesadaran manusia yang sesungguhnya, manusia yang berhakikat, berakal, cerdas, berintuisi, manusia yang sudah percaya akan kebenaran dari sebuah kepercayaan yang tidak bisa dimengerti. Gw rasa manusia sekarang sedang menghadapi krisis akan sebuah eksistensi. Bagaimana bisa eksistensi seseorang dapat dimengerti jika itu tidak rasional? Itu pertanyaan kita. Ada yang bisa menjelaskan bagaimana seorang kakek bisa lebih tepat memprediksikan kapan sebuah gunung akan meletus, atau bahkan menghentikan letusan gunung merapi yang sudah diujung tombak? Seorang penulis buku yang mencoba menambahkan “sedikit” coretan hitam ke dalam sebuah buku sakral tebal yang dibaca hampir ¾ manusia didunia? Gw rasa manusia modern menghadapi krisis rasio dan eksistensi. Manusia yang malah bertanya-tanya dimana kebenaran itu dan siapa yang benar, dan pada ketika akhirnya mereka tidak menemukannya, mereka akan membuatnya sendiri yang sayangnya melenceng jauh dari harga diri manusia sesungguhnya. Eksistensi modern yang mereka dapat membuat manusia lain berfikir bahwa rasional sudah tidak berguna lagi.

E.      GEJALA-GEJALA MODERNISASI

        Gejala-gejala modernisasi dapat ditinjau dari berbagai bidang modernisasi kehidupan manusia berikut ini.
1) Bidang budaya, ditandai dengan semakin terdesaknya budaya tradisional oleh masuknya pengaruh budaya dari luar, sehingga budaya asli semakin pudar.
2) Bidang politik, ditandai dengan semakin banyaknya Negara yang lepas dari penjajahan, munculnya Negara-negara yang baru merdeka, tumbuhnya Negara-negara demokrasi, lahirnya lembaga-lembaga politik, dan semakin diakuinya hak-hak asasi manusia.
3) Bidang ekonomi, ditandai dengan semakin kompleksnya kebutuhan manusia akan barang-barang dan jasa sehingga sektor industri dibangun secara besar-besaran untuk memproduksi barang.
4) Bidang sosial, ditandai dengan semakin banyaknya kelompok baru dalam masyarakat, seperti kelompok
buruh, kaum intelektual, kelompok manajer, dan kelompok ekonomi kelas (kelas menengah dan kelas atas).

























BAB III
KESIMPULAN

        Modernisasi dapat pula berarti perubahan dari masyarakat tradisional menuju masyarakat yang modern. Jadi, modernisasi merupakan suatu proses perubahan di mana masyarakat yang sedang memperbaharui dirinya berusaha mendapatkan ciri-ciri atau karakteristik yang dimiliki masyarakat modern.
        Modernisasi dapat terwujud apabila masyarakatnya memiliki individu yang mempunyai sikap modern agar modernisasi berjalan lancar perlu dukungan kebudayaan masyarakat. Kebudayaan suatu masyarakat dapat menjadi pendorong sekaligus penghambat proses modernisasi.. karena itu, sikap mental dan nilai budaya suatu masyarakat sangat menentukan diterima atau ditolaknya suatu perubahan atau modernisasi. Sikap mental yang dapat menjadi pendorong proses modernisasi antara lain adalah rajin, tepat waktu, dan berani mengambil resiko.
        Beberapa dampak dari morednisasi dan globalisasi di
Indonesia:
1. Urbanisasi
2. Kesenjangan Sosial Ekonomi
3. Pencemaran Lingkungan Alam
4.
Kriminalitas
5. Lunturnya Eksistensi Jati Diri Bangsa



















DAFTAR PUSTAKA

Hengky, Wila. 1982. Pengantar Sosiologi,
Surabaya. Usaha Nasional

Shadily, Hasan. 1963. Sosiologi Untuk Masyarakat
Indonesia. Jakarta, PT. Pembangunan

Susanto, Phil Astrid S. 1999. Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sisoal.
Jakarta. Putra A.
Bardin

Trijono, Lambang.1998.Sosiologi 2. Jakarta, PT KASIH BERSAMAJAYA

Budiati, Atik Catur.Sosiologi Kontekstual. Jakarta, CV Teguh Karya

http://google.com




PENGELOLAAN HUTAN


PENGELOLAAN HUTAN
Pokok Permasalahan
Hutan sebagai penyeimbang alam dan paru-paru bumi, dalam kawasan hutan terdapat bermacam-macam keanekaragaman hayati dan non hayati, baik flora maupun fauna. Hutan merupakan kawasan yang sangat potensial terutama dalam menggerakan roda ekonomi masyarakat yang hidup disekitar wilayah hutan.dalam hal ini peranan hutan sangat penting unuk laju pertumbuhan ekonomi masyarakat dilevel bawah, level menengah dan level atas (pengusaha) dan juga sebagai aset/devisa negara.
Dalam perkembangan terakhir ini pemerintah telah gagal mengelola hutan secara partisipatif karena tidak pernah melibatkan masyarakat sekitar hutan sebagai mitra kerja, justru masyarakat hanya dijadikan alat (dikambing hitamkan) dicap sebagai penjarah,perusak dan lain-lain. fenomena inilah yang akhirnya mengakibatkan masyarakat bertindak lebih agresif dalam menyikapai persoalan hutan,tetapi pemerintah cenderung mengabaikan kepentingan masyarakat sekitar hutan dengan dalih pembangunan dan penyelamatan aset-aset negara, pemerintah hanya lebih mempercayakan pengelolaan hutan oleh perusahaan besar seperti PT.Perhutani dan perusahaan-perusahaan besar lainya.
Pengelolaan hutan yang diperankan oleh sebuah perusahaan hanya mengejar keuntungan yang sebesar-besarnya, tanpa memperhatikan dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan, sehingga masyarakatlah yang akhirnya menjadi korban exploitasi kekayaan sumber daya hutan. Kekeringan dimana-mana, hutan gundul,tanah longsor (contoh : Tragedi Pacet-Mojokerto Jawa timur) itu semua disebabkan karena pengelola hutan (PT.Perhutani) telah melakukan pelanggaran karena tidak memperhatikan tata ruang kawasan hutan yang seharusnya menjadi kawasan lindung dirubah menjadi hutan produksi.dalam PP.No 32/1999 tentang Kawasan Lindung disebutkan bahwa kemiringan 36º lebih dijadikan kawasan lindung dan sebagai hutan konservasi untuk peresapan sumber air dan mencegah terjadinya erosi.
Perubahan fungsi hutan secara besar-besaran telah mengakibatkan kerusakan yang cukup parah dan menciptakan peluang korupsi oleh instansi-instansi terkait, hutan yang seharusnya berfungsi sebagai Hutan konservasi, perlindungan satwa langka, Hutan cagar budaya, Hutan lindung, Hutan rakyat, sekarang hampir semuanya telah berubah menjadikan kawasan Hutan produksi bahkan menjadi kawasan industri, wilayah perumahan elite dan exploitasi Sumber Daya alam secara besar-besaran oleh para penguasa/pemilik modal yang mengesampingkan AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan). Sudah saatnya kita sebagai warga negara yang tertindas oleh kebijakan pemerintah yang tidak memihak kepada rakyat kecil dijadikan alat dan dikambing hitamkan atas kerusakan hutan yang terjadi,oleh karena itu kita harus bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintah yang pada akhirnya menyengsarakan masyarakat yang hidup disekitar hutan serta bangsa dan negara khususnya.
Pengelolaan Hutan
Pada dasarnya masyarakat sekitar hutan lebih mampu mengelola kekayaan alam yang ada di dalam hutan. Pemanfaatan hutan yang dilakukan oleh masyarakat pada umumnya berdasarkan warisan dari Nenek moyang secara turun temurun,antara lain :
1. Budaya adat : dalam pengelolaanya biasaya menganut aturan adat yang dimiliki, misalnya menanam suatu jenis tanaman yang sesuai dengan musimnya, menebang pohon yang usianya sudah tua dan telah siap pohon penggantinya untuk pembuatan rumah , memilih jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi tanah dan iklim yang mendukung.
2. Kearifan lokal : masyarakat pada umumnya percaya pada penghuni mahkluk gaib disekitarnya yang dipercaya bisa mendatangkan sebuah bencana jika tidak melakukan ritual, misalnya dengan memberi sesaji, membakar kemenyan, dan suatu kebiasaan yang harus dilakukanya adalah sebelum maupun sesudah pengolahan lahan dan pasca panen mereka harus mengadakan selamatan (jawa,tumpengan) dengan mengundang orang-orang yang ada di sekitarnya Dan mereka tetap menjaga serta melestarikan suatu tempat yang dianggap keramat (petilasan/punden).
3.mempelajari keanekaragaman tanaman hutan : hal ini merupakan ilmu ilmiah yang diwarisi secara turun temurun yang tidak pernah ditinggalkan/dilupakan adalah mempelajari jenis-jenis tanaman yang hidup didalam hutan,mereka pelajari semua tanaman yang berfungsi sebagai sumber kehidupan alternativ, jenis tanaman yang dipelajari biasanya yang berfungsi untuk pengobatan tradisional, tanaman yang bisa dimakan, tanaman yang berfungsi untuk ritual dan juga pohon yang bisa dibuat untuk rumah dalam jangka waktu puluhan tahun.
4. pengelolaan hutan : lahan hutan yang dikelola biasanya menggunakan dengan cara-cara tradisional yang tidak merusak kesuburan tanah dan habitat disekitarnya,alat-alat yang digunakan juga sangat sederhana,dalam mengelola lahan hutan mereka menganalisa dampak -dampak yang timbul dikemudian hari seperti lahan kemiringan dijadikan sebagai hutan resapan,daerah sekitar sumber air tetap dilestarikan dengan menanam pohon yang banyak mengandung kadar air dan membuat terasiring untukmencegah terjadinya erosi.
5. pemanfaatan fungsi hutan : Secara tidak langsung masyarakat sekitar hutan telah banyak melakukan langkah-langkah penyelamatan hutan dari kerusakan yang disebabkan karena proses alam maupun kerusakan yang disebabkan oleh manusia,pemanfaatan fungsi hutan menurut budaya adat masyarakat adalah pengelolaan yang secara berkelanjutan dan tetap terjaganya nilai-nilai budaya lokal dan kearifan lokal.
Dalam pengelolaan hutan perlu memperhatikan beberapa fungsi diantaranya :
1. Fungsi ekonomi : masyarakat disekitar hutan dapat menikmati hasil dari hutan yang mereka kelola dengan harapan ada peningkatan ekonomi yang stabil dan menciptakan lapangan kerja bagi generasi mendatang dengan pola peningkatan pengelolaan hutan yang berteknologi ramah lingkungan.
2. fungsi sosial: terciptanya solidaritas masyarakat sekitar hutan dan menghindari kesenjangan sosial diantara kelompok masyarakat, maka dlam hal ini pengelolaan hutan dilakukan secar kolektif.
3. fungsi ekologi : hutan berfungsi sebagai konservasi, untk mencegah terjadinya bencana banjir, longsor, kekeringan dan kebakaran serta memberikan perlindungn terhadap masyarakat disekitarnya (dari segi keamanan dan kesehatan ).
Beberapa fungsi diatas sangat penting untuk diterapakan dalam pengelolaan hutan sytem masyarakat. Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa masyarakat punya cara tersendiri dalam memanfaatkan pengelolaan sumber daya alam yang ada di hutan, mereka tetap memperhatikan budaya yang diwarisi dari para pendahulunya dan juga kearifan lokal masyarakat sangat mendukung dengan langkah-langkah yang mereka lakukan dalam pengelolaan hutan,beberapa hal diantaranya : melindungi sumber air dengan melestarikan pepohonan yang banyak mengandung kadar air, tidak menebang pohon di area kemiringan yang rawan longsor/banjir, menanam pohon yang produktif (hanya diambil buahnya) serta menanam tanaman yang bisa mendatangkan satwa.
Langkah-langkah yang dilakukan oleh masyarakat untuk tetap menjaga kelestarian dan menyelamatkan fungsi hutan antara lain : membuat kesepakatan adat yang dibuat oleh para tokoh masyarakat yangn melibatkan semua lapisan masyarakat, yang isinya membuat peraturan yang harus ditaati dan sanksi bagi yang melanggar beberapakesepakatan adat diantaranya : tidak menebang pohon yang berfungsi untuk penyerapan air, mengolah lahan dengan tidak menggunakan bahan kimia, bersdia dan sanggup menjaga serta melestarikan hutan, serta mewajibkan setiap masyarakat untuk menanam pohon yang produktif.
Pengelolaan hutan yang dikelola oleh masyarakat menjadi lebih terkoordinsi dan peningkatan ekonomi masyarakat sekitar hutan mengalami perubahan yang cukup berarti dan juga dapat mengurangi kesenjangan sosial serta mengurangi tindak kriminal karena tuntutan ekonomi. Oleh karena itu hutan yang pengelolaanya secara berkelanjutan harus didasari dengan :
1. prinsip-prinsip ramah lingkungan : pengolahan lahan yang berbasiskan masyarakat hutan yaitu dengan cara menggunakan bahan-bahan alami yang berfungsi untuk pupuk organik dan pestisida organik, dari unsur-unsur tersebut tidak mengandung bahan kimia yang dapat merusak kesuburan tanah.
2. partisipasi seluruh masyarakat : dalam hal ini masyarakat bekerjasama dengan masyarakat sekitar hutan yang berada di daerah lain untuk saling tukar pikiran dan pengalaman tentang pengelolaan hutan, pengawasan pelestarian fungsi hutan agar generasi yang akan datang dapat menikmati keanekaragaman kehidupan didalam hutan dan pemanfaatan kekayaan sumber daya alam bisa diselamatkan dengan cara pengelolaan hutan secara berkelanjutan oleh masyarakat setempat dan keamanan yang terjamin demi kelangsungan hidup masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar hutan.


Pengelolaan Hutan
 
Keberhasilan Purworejo dalam mengelola hutan rakyat, mendapat pujian dari Menteri Kehutanan RI, H Zulkifli Hasan SE MM. Keberhasilan tersebut agar dicontoh daerah lain, bahkan luar Jawa. Karena dengan pengelolaan hutan rakyat yang bagus, semua pihak akan diuntungkan, baik petani, pemerintah maupun perusahaan.
 
Pernyataan tersebut disampaikan Zulkifli Hasan, saat melakukan kunjungan kerja di pabrik pengolahan kayu PT Indotama Purworejo, Sabtu (19/5). Zulkifli beserta isteri, didampingi beberapa pejabat di jajarannya, diterima Bupati Purworejo Drs H Mahsun Zain MAg beserta jajarannya, serta pimpinan PT Indotama Henri Utama.
 
Pada kesempatan tersebut, Menteri Kehutanan menyerahkan secara simbolis bantuan senilai Rp 2,5 milyar. Rinciannya, bantuan program Kebun Bibit Rakyat (KBR) senilai Rp 2,4 milyar kepada 48 klomtan, masing-masing Rp 50 juta. Juga diberikan bantuan langsung masyarakat (BLM) program pengembangan perhutanan masyarakat pedesaan berbasis konservasi, kepada Pondok Pesantren Islahul Muftadiin Desa Winong Kecamatan Kemiri dan Kelompok Tani Bangkit Desa Karangluas Kecamatan Kemiri, masing-masing Rp 50 juta.
 
Selain itu, juga diserahkan bibit tanaman kepada asosiasi petani hutan rakyat Desa Tlogosono Kecamatan Gebang, pengelola pabrik minyak nyamplung Desa Patutrejo, penyuluh kehutanan pada Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BPP-KT), dan SMA Darul Hikmah Kutoarjo.
 
“Saya sangat bangga bisa datang ke Purworejo, ternyata Purworejo daerahnya penuh dengan tanaman. Apalagi kedatangan saya disambut dengan kalimat yang sederhana namun maknanya sangat tinggi yaitu nandur uwit panen duwit”. Kondisi seperti ini perlu dicontoh daerah lain, bahkan kalau perlu akan saya kampanyekan ke luar pulau Jawa,” katanya dengan mengucapkan kalimat berbahasa Jawa yang sering salah-salah.
 
Dengan menanam pohon, lanjutnya, semua pihak diuntungkan. Dengan menanam, berarti petani bisa melakukan aktifitas. Pada saatnya nanti, mereka akan mendapatkan uang hasil panen kayu. Pemerintah diuntungkan karena daerahnya menjadi hijau, hutannya terjaga. Pihak perusahaan dapat beroperasi mendapatkan pasokan kayu dari masyarakat, sementara hutannya tidak rusak. Dengan beroperasinya perusahaan, akan menyerap tenaga kerja, berarti membuka lapangan kerja
“Apalagi saya mendapat laporan dari pimpinan perusahaan, bahwa perusahan masih menggunakan mesin yang sederhana. Perusahaan masih menggunakan prinsip padat karya. Dengan mesin ini, disamping kualitas hasil tetap berkualitas, juga banyak menyerap tenaga kerja,” katanya.
Untuk mengembangkan pengelolaan hutan rakyat, pemerintah akan menyalurkan bantuan kepada desa, tiap desa Rp 50 juta. Demikian juga bagi petani, apabila dalam mengembangkan usahanya membutuhkan modal, petani bisa meminjam melalui Badan Layanan Umum (BLU). Petani bisa mengembalikan pinjaman mulai tahun ke delapan, padahal tanaman tertentu dapat dipanen pada umur lima tahun. Atau bisa melalui kredit usaha rakyat (KUR).
Disisi lain, ia mengakui di Indonesia masih ada tanah yang belum tertanami, sekitar 20-30 juta hektar. Apabila pola di Pemkab Purworejo diterapkan di seluruh Indonesia, ia optimis selama 20-30 tahun kedepan, Indonesa akan berhasil. Untuk itu, pihaknya butuh komitmen semua pihak.
Kepala bidang Kehutanan pada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Purworejo Ir Argo Prasetyo, mengungkapkan bahwa  kunjungan Menteri Kehutanan di PT Indotama, karena perusahan tersebut telah menjalin kemitraan dengan asosiasi pemilik hutan rakyat (APHR) “Purwo Lestari” Kecamatan Gebang. Asosiasi ini memiliki wilayah kerja di enam desa, yaitu Desa Tlogosono, Redin, Wonotopo, Bendosari, Sidoleren, dan Desa Salam. Sedangkan BLM tiap kelompok Rp 50 juta yang diserahkan Menhut, akan dipergunakan untuk pengadaan pembibitan sebanyak 50.000 bibit tanaman.  **


PROPOSAL KEGIATAN SEKOLAH

PROPOSAL
LATIHAN DASAR KEPEMIMPINAN SISWA (LDKS)
OSIS SMP / SMA / SMK - SALOMEKKO
TAHUN PELAJARAN 2011 /2012


A. DASAR PEMIKIRAN
Osis sebagai organisasi formal di sekolah merupkan wadah yang menampung reativitas dan aktivitas siswa. Berdasar pada fungsi yang dimiliki oleh OSIS itulah, maka perlu adanya sebuah usaha untuk mengembangkan potensi dan kreativitas para anggotanya. Salah satu peran OSIS dalam mewujudkan fungsinya itu ialah mengadakan pengkaderan agar ddapat menghindari terjadinya lost generation
Pengkaderan yang dilaksanakan oleh OSIS SMP / SMA / SMK – SALOMEKKO dilaksanakan dalam bentuk Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa. Melalui kegiatan ini diharpkan calon Pengurus OSIS yang akan datang memiliki dedikasi dan integritas yang tinggi terhadap organisasi yang didiaminya. Untuk mewujudkan hal ini di atas OSIS SMP / SMA / SMK – SALOMEKKO memandang perlu mengadakan kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa

B. NAMA KEGIATAN
Kegiatan yang dilaksanakan OSIS SMP / SMA / SMK – SALOMEKKO untuk mewujudkan harapan sebagaimana tertera pada Dasar Pemikiran di atas adalah Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS)

C. TUJUAN KEGIATAN
Tujuan yang hendak dicapai setelah mengikuti kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa adalah siswa diharpkan :
1. Mengerti dan memahami arti pentingnya suatu organisasi
2. Menumbuhkan sikap tanggung jawab an disiplin diri terhadap organisasi
3. Memperoleh bekal keterampilan dan pengetahuan dasar – dasar berorganisasi
4. Menanamkan sikap mandiri, tanggung jawab dan rasa memiliki yang kuat sebagai calon pemimpin dan anggota masyarakat
5. Mampu menerapkan suatu konsep keeffektifan dan keberhasilan suatu organisasi

D. MANFAAT YANG AKAN DIPEROLEH
Dari kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) akan diperoleh manfaat yang dapat dirasakan oleh calon pemimpin berupa penambahan wawasan, pemrolehan pengalaman pengembangan, minat, bakat dan jaminan masa depan

E. TEMA KEGIATAN
“ Menggali Potensi Menuju Citra Diri’

F. WAKTU PELAKSANAAN DAN TEMPAT KEGIATAN
1. Waktu Kegiatan : Tanggal 29 April s.d 30 April 2011
2. Tempat Kegiatan : Gedung SMA NEGERI 1 SALOMEKKO

G. BENTUK KEGIATAN
Dalam Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) dilaksaakan bentuk – bentuk egiatan sebagai berikut :
1. Penyampaian Materi tentang :
• Keorganisasian
• AD / ART OSIS
• Kepemimpinan
• Teknik Berdiskusi
• Rhetorika dan Protokoler
• Teknik Pembuatan Proposal dan Pertanggungjawaban
• Kesekretariatan
• Tata cara Upacara Bendera
• Dinamika Kelompok
• Tata Cara Bersidang
2. Evaluasi
3. Demonstrasi
4. Simulasi

H. PESERTA
Peserta kegiatan ini adalah siswa – siswi SMP / SMA / SMK – SALOMEKKO kelas X. AP2 yang telah lulus dalam tahap penyeleksian atau berdasarkan ketentuan lain yang mengesahkannya. Peserta seluruhnya berjumlah 42 orang dengan rincian sebagai berikut :
1. Peserta Laki – laki : 21 orang
2. Peserta Perempuan : 21 orang

I. PANITIA PELAKSANA
Pelaksana kegiatan ini adalah pengurus OSIS SMP / SMA / SMK – SALOMEKKO periode 2011– 2012 dengan komposisi kepnitiaan sebagaimana terlampir :

J. SUMBER DANA
Sumber dana kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) ini berasal dari
Dari BOS : RP. 1.510.000,-
JUMLAH : Rp. 1.510.000,-

K. RINCIAN BIAYA
Biaya yang diperoleh dari sumber – sumber di atas dialokasikan untuk keperluan pengeluaran sebagai berikut :
a. Administrasi dan Kesekretariatan : Rp. 350.000,-
b. Vakasi Pembimbing dn Instruktur : Rp. 400.000,-
c. Konsumsi : Rp. 450.000,-
d. Peralatan : Rp. 100.000,-
e. Dokumentasi : Rp. 80.000,-
f. P3K : Rp. 50.000,-
g. Biaya tak terduga : Rp. 80.000,-
JUMLAH : Rp. 1.510.000,-

L. PENUTUP DAN PENGESAHAN
Demikian proposal ini dibuat untuk dijadikan pedoman pelaksanan kegiatan. Hal – hal lain yang belum diatur dalam proposal ini akan dibuat kemudian
                                                                                    
SALOMEKKO, 13JANUARI, 2013
 Mengetahui,                                                                                  Panitia LDKS OSIS  Ketua                                                                                                      Sekretaris 


    
(EDIL ADHAN SAPUTRA)                                                                    (KHAERUDDIN)

Menyetujui,
Kepala SMP / SMK / SMA SALOMEKKO



(Drs. SYAMSUL RIZAL)